Menyikapi Keinginan Indonesia Jadi Anggota Brics
Diberitakan Indonesia ingin jadi anggota Brics. Ini perlu kita sikapi. Apakah ada potensi bahaya atau tidak. Jika bahaya tentu sebaiknya diurungkan keinginan itu. Maka perlu pengkajian mendalam dalam hal ini.
Brics merupakan akronim dari Brazil, Rusia, India, China dan South African.
Brics didirikan oleh empat negara yaitu Brazil, Rusia, India, dan China tahun 2006. Kemudian di tahun 2010 Afrika Selatan masuk didalamnya.
Perkembangan selanjutnya Brics bertambah lagi anggotanya dengan masuknya beberapa negara diantaranya Iran.
Perkembangan selanjutnya lagi mengabarkan dari Presiden Putin bahwa ada tiga puluh negara yang ingin masuk menjadi anggota Brics.
Brics vs G20
Tampaknya Brics ingin menandingi G20. Sama-sama membahas masalah keuangan global. Namun Brics tidak mengeluarkan mata uang sendiri seperti halnya G20 yang mengeluarkan mata uang dolar. Brics menyarankan mengoptimalkan mata uang lokal.
Dolar digunakan sebagai mata uang internasional. Ketika Amerika mengalami krisis liquiditas maka pemerintah memerintahkan Bank untuk membeli surat utangnya. Lalu bank mencetak dolar. Permasalahan pun menjadi timbul yaitu inflasi.
Harga pangan, dan komoditas lainnya jadi lebih mahal dari semula. Sehingga rakyat miskin menjadi lebih sengsara.
G20 menginginkan keterlibatan negara-negara berkembang di dalam IMF dan Bank Dunia. Juga ingin menghapus subsidi bahan bakar fosil yang menyebabkan pemanasan global. Padahal konsumsi BBM terbesar ada di Amerika.
Subsidi bila melihat fakta merupakan bantuan keuangan dari Pemerintah atau non pemerintah. Selain keuangan juga dalam bentuk menjaga harga barang dan jasa dalam negeri dari barang impor.
Subsidi ada dua yaitu subsidi energi dan subsidi non energi. Subsidi energi meliputi subsidi minyak dan subsidi listrik. Sedangkan subsidi non energi meliputi tujuh hal. Diantaranya subsidi pangan dan subsidi pupuk.
Subsidi merupakan kewajiban pemerintah pada rakyatnya. Sehingga kalau dihapus berarti menyalahi Syariah Islam.
G20 semula G7. Namun masuknya beberapa negara berkembang berubah jadi G20.
G20 terdapat dua kutub kapitalis yaitu Amerika dan Inggris kutub pertama. Kutub kedua yaitu Jerman dan Prancis. Kutub pertama tidak menginginkan perubahan sistem. Sedangkan kutub kedua menginginkan perubahan sistem. Maka akhirnya KTT G20 menghasilkan keputusan yang kompromi.
Posisi China dan Rusia di G20
China dan Rusia membawa kepentingan negaranya masing-masing. China menginginkan pangsa pasar ekspor ke Amerika sehingga dapat mengurangi pengangguran di negaranya.
Rusia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam gas yang berlimpah sehingga ini menjadi daya tawar yang kuat bagi negara-negara yang tergantung pada impor gas dari Rusia.
Posisi Indonesia di G20
Posisi Indonesia di G20 merupakan posisi yang berbahaya. Indonesia terjebak dalam hutang luar negeri. Sampai sekarang Indonesia masih memiliki hutang luar negeri yang pantastis. Ribuan triliun hutang ditambah bunganya.
Hutang ini menjadi alat Penjajah untuk mengendalikan ekonomi dan politik terutama di Indonesia. Indonesia tidak bisa menentukan kehendaknya sendiri. Harus ada persetujuan pihak luar.
Ide yang dilontarkan dalam KTT G20 sejalan dengan negara Kapitalis berarti ikut juga membawa kerusakan.
Sudah menjerumuskan diri sendiri juga negara berkembang lainnya. Dosanya jadi dobel. Maka Indonesia harus berhati-hati terhadap organisasi dunia termasuk Brics. Jangan sampai tetjajah lagi dengan penjajahan gaya baru.
Jangan karena ingin sejajar atau kebanggaan masuk organisasi dunia melupakan potensi bahaya yang mengancam. Jangan sampai jatuh untuk kedua kalinya. Bukankah pengalaman merupakan guru yang baik dalam melangkah kedepannya. Intinya Indonesia jangan terjebak lagi oleh penjajahan gaya baru yaitu jabakan hutang dari negara kapitalis baik Asing maupun Aseng.
Utang Pemerintah AS
Dalam sejarahnya Wakil rakyat AS pernah menyepakati Penambahan utang dua triliun lebih dari batas atas dua belas triliun lebih. Namun dengan Catatan belanja dikurangi selama sepuluh tahun.
Meski demikian Lembaga rating menurunkan peringkat dari AAA menjadi AA+. Jika terus menurun maka ekonomi AS akan mengalami guncangan.
Sumber krisis finansial
Setidaknya ada tiga sumber krisis keuangan yaitu utang ribawi dan perusahaan yang menjual sahamnya di bursa juga dolar yang dicetak secara mudah sehingga terjadi inflasi.
Solusi permasalahan keuangan
Indonesia jangan tergantung pada dolar. Sudah terbukti menimbulkan masalah. Diantaranya harga barang menjadi lebih mahal. Sehingga tidak dapat membelinya. Padahal barang itu bisa merupakan barang kebutuhan pokok yang harus segera dipenuhi.
Mata uang yang tidak ditopang oleh emas terbukti menimbulkan masalah. Harga barang lebih mahal dari harga semula. Uang jadi komoditi atau dapat diperjualbelikan seperti sembako. Akibatnya modal untuk dagang dalam perdagangan riil menjadi tidak ada atau berkurang.
Menghapus ribawi merupakan solusi dalam krisis keuangan. Hutang yang tidak ribawi memberikan angin segar untuk sementara waktu.
Untuk mengatasi masalah ini maka harus kembali pada mata uang Dinar dan dirham atau uang kertas ditopang emas atau perak. Ketersediaan emas terbatas maka uang kertas yang beredar pun harus menyesuaikan dengan ketersediaan emas.
Penilaian terhadap Indonesia
Menurut Sugiono Mentri luar negeri Indonesia menilai bahwa masuknya Indonesia ke Brics tidak bertentangan dengan sikap luar negeri non blok Indonesia.
Ada pengamat menilai bahwa masuknya Indonesia merupakan perlawanan kepada barat atau hegemoni Amerika.
Brics digawangi oleh Rusia dan China.
Keanggotaan Brics memerlukan persetujuan dari semua anggota Brics.
Brics mendirikan Bank NDB. Saham NDB dimiliki oleh lima negara pendiri yaitu Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Masing-masing negara itu menanam saham sebesar 20%.
Jika Indonesia memasuki Brics dihawatirkan Indonesia akan lebih terdorong untuk meminjam ke Bank itu. Oleh karena itu lebih baik Indonesia jangan jadi Anggota. Bahayanya lebih besar dari manfaatnya. Apalagi Brics membuat lembaga tandingan IMF. Kita tahu IMF pernah mengendalikan Indonesia sebagai syarat meminjam uang.
Negara Pendiri Brics tentu membawa kepentingan masing-masing. Belum tentu kepentingannya sesuai dengan kepentingan Indonesia. Bagaimana kalau bertentangan. Tentu ini menimbulkan masalah di masa yang akan datang.
Fokus menjadi Negara yang kuat
Indonesia lebih baik fokus menjadi negara yang kuat. Kuat rakyatnya. Kuat Pemimpinnya. Kuat Militernya. Kuat ekonominya dan kuat yang lain-lainya.
Kalau berbicara kuat maka tidak ada yang lebih kuat dari Alloh SWT. Karena semua kekuatan merupakan milik Alloh SWT. Laahaula walaaquwata ilabillaahil aliyil adiim.
Oleh karena itu kalau ingin kuat kita harus taat pada Perintah dan Larangan Alloh SWT. Dan memohon doa kepada Alloh SWT agar dikuatkan. Iyyaa Kana budu waiyyaa kanastaiin.
Alloh SWT telah menentukan siapa yang berhak dan wajib mengurusi manusia yaitu para Nabi. Setelah Nabi Muhammad yaitu para Kholifah. Maka Kholifah lah yang mengurus manusia bukan yang lain. Kholifah tentu mengatur dan mengurus manusia dengan aturan Islam bukan aturan yang lain, baik Kapitalisme maupun Sosialisme Komunisme.
Komentar
Posting Komentar